Meneruskan tulisan saya sebelumnya mengenai Ni'owuru di tautan http://onekhe.blogspot.co.id/2012/02/niowuru.html yang sudah terposting beberapa tahun yang lalu. Banyak warisan budaya dari daerah Nias yang tidak banyak dikenal oleh banyak orang bahkan mungkin orang Nias asli yang lahir di luar pulau Nias. Ni'owuru ini salah satu makanan khas di pulau Nias dan susah didapatkan di daerah lain. Ni'owuru yang rasanya asin, asin pahit karena kadar garamnya yang sangat tinggi, namun rasa nikmat dan khasiat dari makanan ini tetap terasa dan tak terlupakan. Bagi orang Nias yang sudah lama di perantauan pasti merindukan makanan yang satu ini.
Sebuah tulisan yang berjudul "Ni Oworu, Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2016" di tautan https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/2016/11/04/ni-oworu-warisan-budaya-takbenda-indonesia-2016/, memberikan sebuah keterangan bahwa Ni'owuru sudah mulai punah, entah informasi ini diperoleh dari mana tetapi saya percaya tulisan ini tentu ada sumber referensinya. Bisa jadi Ni'owuru ini sudah mulai langka di pulau Nias karena berkembangnya teknologi seperti saat ini sudah ada mesin kulkas (freezer) yang digunakan untuk mengawetkan bahan makanan.
Kalau dilihat dari asal usulnya, ni'owuru ini salah satu cara mengawetkan makanan khususnya daging babi dengan garam lalu kemudian disimpan dalam wadah tertutup, cara ini dilakukan pada zaman dahulu dikala itu belum ada mesin kulkas bahkan listrik pun juga belum masuk di Nias.
Jadi bisa saja cara mengawetkan daging menggunakan garam ini akan semakin langka dan susah didapatkan lagi di Pulau Nias. Karnea dari sisi kesehatan mengkosumsi garam berlebihan bisa menyebabkan berbagai penyakit bagi tubuh. Rasa daging yang diawetkan dengan garam tentu tidak seperti rasa aslinya, namun dengan menggunakan freezer rasanya aslinya tetap awet. Inilah yang menyebabkan daging ni'owuru ini bisa jadi akan semakin langka. Mungkin saja nanti beberapa tahun lagi, ni'owuru ini hanya tinggal nama saja.
Perlu ada tindakan untuk melestarikan budaya yang satu ini agar tetap eksis dan tidak tinggal nama. Mungkin perlu dibuat menjadi oleh-oleh khas Nias, dibuat dalam kemasan khusus, dijual di warung daging ataupun di pusat oleh-oleh khas Nias.
Mungkin pernah mendengar "Ikan Roa" dari Manado, ikan ini merupakan ikan khas dari Manado. Rasanya enak dan gurih, akan lebih nikmat bila dijadikan sambel roa. Ikan roa inipun menjadi oleh-oleh khas Manado bahkan bisa dipesan secara online. Sebenarnya ikan ini bisa didapatkan hampir di semua perairan Indonesia termasuk di pulau Nias, orang Nias menyebut ikan ini ikan "toda". Tetapi mengapa ikan roa ini sangat khas, karena mereka kemas menjadi oleh-oleh khas. Tidak salah bila masyarakat Nias belajar bagaimana mengemas dan dapat menjual Ni'owuru menjadi khas seperti Ikan Roa dari Manado.
Semoga pengrajin dan kuliner di pulau Nias dapat mengemas Ni'owuru ini menjadi sesuatu yang bernilai dan dicari di pulau Nias, menjadi komoditas yang bisa dijual untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Berharap dengan brand dan rasa khasnya, menjadi oleh-oleh wajib masyarakat Nias yang pulang kampung dan bahkan wisatawan yang datang ke Nias juga menjadi penasaran dan mencoba oleh-oleh ni'owuru ini, semoga saja...
Ya'ahowu.
Ya'ahowu adalah kata sapaan suku Nias, sebuah suku yang tinggal di pulau Nias (Ono Niha) jauh di ufuk barat pulau Sumatera. Ya'ahowu ada banyak arti dan digunakan dalam banyak keadaan. Bisa diartikan salam, Tuhan memberkati, semoga sukses, selamat, dsb.
Showing posts with label Ono Niha. Show all posts
Showing posts with label Ono Niha. Show all posts
Tuesday, January 23, 2018
Monday, January 22, 2018
Bawi dipelihara hampir setiap rumah
"Bawi" atau babi dalam bahasa Indonesia, begitulah Orang Nias menyebut binatang berkaki empat yang merupakan binatang peliharaan berharga paling mahal dan sangat dibutuhkan di Pulau Nias. Setiap keluarga beternak babi umumnya masyarakat yang tinggal di pedesaan atau pesisir. Aneh rasanya bila sebuah keluarga tidak beternak babi, mungkin inilah yang dirasa unik di pulau Nias.
Bawi atau babi, salah satu jenis binatang omnivora yang memakan segalanya, termasuk binatang yang mudah dipelihara karena hampir memakan pakan apa saja, bahkan bila dibiarkan di daerah terbuka binatang ini bisa mencari makan sendiri, seperti babi hutan. Di Nias, masyarakat yang memelihara bawi memberikan pakan babi dari batang atau daun ubi jalar, kelapa, ubi-ubian dan dedak padi, namun beberapa tahun terakhir ini banyak yang mulai menggunakan pakan instan yang bisa dibeli di toko atau warung. Dulu masyarakat menggunakan "lomo", sebagai wadah untuk menampung sisa makanan yang sudah membusuk dan dicampur dengan air, sehingga berbau busuk, dan airnya yang akan dijadikan sebagai cairan campuran makanan babi. Bisa dibayangkan baunya bagaimana, makanya yang suka memberi makan babi, tangannya berbau busuk, khas bau lomo, dan susah hilang dalam beberapa hari, jadi kalau ada di tempat umum, bisa saja bau lomo ini tercium.
Ok, kembali lagi ke bawi, mengapa babi itu dipelihara hampir semua rumah tangga di Nias? Karena babi ini adalah komoditas paling dibutuhkan khususnya dalam acara adat. Dalam acara adat, acara syukuran keluarga, acara rohani, menjamu tamu, atau apapun acara perkumpulan di Nias, babi menjadi barang yang harus ada dan menjadi konsumsi paling mewah dan berharga. Bisa dibilang bawi ini adalah makanan paling mewah di pulau Nias, tanpa makan bawi rasanya ada yang kurang dan sudah melekat pada kebiasaan adat di Nias. Jadi itulah mengapa setiap keluarga berusaha untuk memelihara babi, biar pada saat keluarga ini butuh babi maka tinggal ambil babi peliharaan sendiri dan tidak repot untuk mencari di tempat lain, selain juga harga babi di Nias cukup mahal juga.
Ya'ahowu.
HCZ
Bawi atau babi, salah satu jenis binatang omnivora yang memakan segalanya, termasuk binatang yang mudah dipelihara karena hampir memakan pakan apa saja, bahkan bila dibiarkan di daerah terbuka binatang ini bisa mencari makan sendiri, seperti babi hutan. Di Nias, masyarakat yang memelihara bawi memberikan pakan babi dari batang atau daun ubi jalar, kelapa, ubi-ubian dan dedak padi, namun beberapa tahun terakhir ini banyak yang mulai menggunakan pakan instan yang bisa dibeli di toko atau warung. Dulu masyarakat menggunakan "lomo", sebagai wadah untuk menampung sisa makanan yang sudah membusuk dan dicampur dengan air, sehingga berbau busuk, dan airnya yang akan dijadikan sebagai cairan campuran makanan babi. Bisa dibayangkan baunya bagaimana, makanya yang suka memberi makan babi, tangannya berbau busuk, khas bau lomo, dan susah hilang dalam beberapa hari, jadi kalau ada di tempat umum, bisa saja bau lomo ini tercium.
Ok, kembali lagi ke bawi, mengapa babi itu dipelihara hampir semua rumah tangga di Nias? Karena babi ini adalah komoditas paling dibutuhkan khususnya dalam acara adat. Dalam acara adat, acara syukuran keluarga, acara rohani, menjamu tamu, atau apapun acara perkumpulan di Nias, babi menjadi barang yang harus ada dan menjadi konsumsi paling mewah dan berharga. Bisa dibilang bawi ini adalah makanan paling mewah di pulau Nias, tanpa makan bawi rasanya ada yang kurang dan sudah melekat pada kebiasaan adat di Nias. Jadi itulah mengapa setiap keluarga berusaha untuk memelihara babi, biar pada saat keluarga ini butuh babi maka tinggal ambil babi peliharaan sendiri dan tidak repot untuk mencari di tempat lain, selain juga harga babi di Nias cukup mahal juga.
Ya'ahowu.
HCZ
Saturday, January 20, 2018
Mado
Mado atau marga atau family name, dimiliki oleh setiap orang yang berasal dari Suku Nias. Mado akan dipakai sebagai pelengkap nama setiap keturunan orang Nias. Seperti suku lain yang juga memiliki marga, Nias merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki marga dan digunakan dalam setiap nama karena memiliki makna yang sangat kuat, yang menandakan sebagai garis keturunan dari suatu marga atau keluarga besar. Setiap anak yang baru lahir diberikan nama dan marga mengikuti marga dari ayahnya, karena di Nias mengikuti garis keturuan ayah atau Patrilineal.
Mado pada awalnya berasal dari nama Kakek moyang atau leluhur yang kemudian nama tersebut digunakan oleh keturunan berikutnya dalam namanya. Mado bukan pemberian, tetapi karena sudah takdir lahir dalam sebuah keluarga mado tertentu, bukan pilihan dan tidak dapat ditukar. Mado merupakah sebuah kebanggaan, karena beberapa mado di pulau Nias memiliki cerita kebanggaan leluhur di masa lalu. Dulu masyarakat Nias memiliki kasta mulai dari yang terendah sampai tertinggi dilihat dari harta, posisi dalam sebuah lingkungan sosial seperti menjadi seorang ketua adat, tokoh adat, kepala desa, tuhenori, dan posisi sosial lainnya. Dulunya, masyarant Nias yang memiliki harta yang banyak, sangat dihormati dan berada pada posisi tertinggi dalam lingkungan masyarakat, dipandang dan dihormati, sebab yang memiliki harta banyak mampu melakukan pesta adat atau Gowasa. Gowasa ini dilakukan untuk meningkatkan derajat atau kasta sosialnya, dengan melakukan pesta, mengundang masyarakat banyak. Dalam pesta di Nias, babi merupakan alat atau sarana dan konsumsi paling mewah saat acara pesta, tidak ada makanan lain atau tidak ada yang dibawa pulang yang lebih istimewa dan terhormat selain daging babi. Semakin banyak jumlah babi yang dikorbankan dalam acara pesta, maka semakin tinggilah nilai pesta tersebut yang serta merta akan meninggikan posisi atau kasta si pemilik pesta (Solau Gowasa). Setelah pesta, dia akan dinobatkan atau diangkat dan ditempatkan pada level tertinggi dan terpandang sampai nanti anak dan cucunya.
Kembali ke Mado, ada hubungan kekeluargaan dan kebanggaan tersendiri, dimana dan siapapun itu, asal sesama marga. Misalnya ada seorang pejabat, katakanlah marga Laoli menjadi seorang Menteri, maka secara alamiah khususnya yang bermarga Laoli akan sangat bangga dan membagga-banggakan sosok pejabat tersebut.
Mado apakah bisa diberikan atau dihadiahkan? Beberapa masyarakat bukan asli Nias, tetapi sudah lama tinggal di Nias, memiliki mado karena pemberian. Ini bisa dilakukan oleh keluarga besar atau mado tertentu di Nias, karena sudah dianggap saudara, memiliki hubungan baik sehingga sebagai tanda persaudaraan diberilah mado. Beberapa yang saya ketahui seperti di Kota Gunungsitoli, orang Tionghoa yang sudah lama tinggal di pulau Nias, mereka memiliki mado seperti Harefa, Zebua dan sebagainya. Ini merupakah sebuah pemberian dan kehormatan kepada seseorang yang diberikan mado.
Beberapa mado di Nias, memperbolehkan perkawinan sesama mado, karena bila dilihat dari garis keturunan sudah cukup jauh. Namun ada juga mado yang tidak memperbolehkan kawin sesama mado, bahkan ada fondrako (perjanjian leluhur yang tidak boleh dilanggar) dan sampai kepada keturunan tetap menyakini fondrako tersebut. Bila ada yang mencoba melanggar maka itu dianggap tabu dan memalukan, dan bahkan diyakini akan menerima kutukan.
Mado... he mado...? Ya'ahowu mado... (di dalamnya ada makna, hei..kamu adalah saudaraku, begitulah kira-kira). Begitulah sapaan keakraban kepada seseorang yang baru kita kenal tetapi sesama mado.
Ya'ahowu!
HCZ
Ya'ahowu!
HCZ
Subscribe to:
Posts (Atom)